
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Kondisi cuaca panas dan kering yang disertai angin kencang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Menghadapi hal tersebut Polda Kaltim melaksanakan uji coba mengendalikan karhutla dengan memanfaatkan bahan semikimia Hartindo AF31 dan F351 sebagai penyekat api.
Pengujian dilakukan oleh Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro saat meninjau lokasi kebakaran lahan di kawasan Perumahan Sepinggan Asri, Balikpapan, Kamis (27/8/2026).
Bahan campuran berbasis air tersebut digunakan untuk membentuk batas atau sekat pada lahan non-gambut. Penyekat diharapkan dapat menghambat pergerakan api sehingga tidak cepat meluas.
Endar mengatakan setiap titik api harus segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
“Sekecil apa pun titik api harus segera kita antisipasi, apalagi kondisi sekarang panas, kering dan angin cukup kuat,” ujar Endar.
Dalam kegiatan, nampak hadir juga Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Krido Pramono, Kepala BPBD Kota Balikpapan Usman Ali, Kepala Basarnas, Dir Samapta Polda Kaltim, Kapolresta Balikpapan, Kabid Humas Polda Kaltim, Danlanud, Dandim, serta Kaops Polda Kaltim.
Endar menyebutkan, berdasarkan data penanganan karhutla hingga Kamis (27/8/2026), luas lahan yang terbakar di wilayah Kaltim mencapai sekitar 75,6 hektare. Menurutnya, pemadaman bukan satu-satunya strategi dalam menangani karhutla. Pengendalian arah rambatan api juga diperlukan, terutama ketika kondisi angin dan lahan kering yang membuat api mudah bergerak.
“Penanganan bukan hanya memadamkan api. Kita juga perlu membatasi pergerakannya agar tidak meluas,” katanya.
Karena itu, Polda Kaltim mencoba penggunaan Hartindo AF31 dan F351 sebagai material penyekat pada lahan non-gambut. Uji tersebut dilakukan untuk mengetahui efektivitas bahan dalam membantu memperlambat rambatan api.
Jika hasil pengujian dinilai efektif, metode tersebut akan dipertimbangkan untuk diterapkan di wilayah lain yang memiliki kondisi serupa.
“Kalau hasilnya efektif, metode ini akan kita coba di wilayah lain yang membutuhkan,” ucap Endar.
Di lokasi kebakaran Sepinggan Asri, para personel serta armada dari sejumlah unsur melakukan penanganan secara bersama-sama. Kondisi angin dan lahan yang kering menjadi perhatian karena dapat mempercepat penyebaran api.
Adapun, lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 3 hingga 4 hektare. Sementara penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan.
Polda Kaltim menyebut penanganan karhutla membutuhkan kecepatan respons dan koordinasi antarlembaga. TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, serta instansi terkait dikerahkan untuk mempercepat pengendalian api di lapangan.
Di samping kegiatan pemadaman, penggunaan teknik pengendalian sebaran api dipandang sebagai salah satu cara alternatif guna menekan potensi kebakaran yang merambah luas.
Pihak Polda Kaltim menjamin bahwa penilaian terhadap teknik tersebut akan dilaksanakan terlebih dulu sebelum metode itu diaplikasikan secara lebih luas. (/*)