IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Posyandu ILP yang dilaksanakan Puskesmas Baru Tengah di RT 45 mendapat antusiasme tinggi dari warga, khususnya kelompok usia produktif dan lansia.

Layanan skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi salah satu bagian yang paling diminati karena warga ingin mengetahui kondisi kesehatannya secara rutin.

Menurut Tenaga Promkes, Suksesy Putri Pirade, meningkatnya kesadaran warga terlihat dari tingginya kehadiran dan partisipasi aktif selama sesi pemeriksaan dan konseling.

“Warga sangat aktif. Mereka bukan hanya datang periksa, tetapi juga banyak bertanya mengenai risikonya,” terangnya, Senin (17/11/2025).

Skrining PTM yang dilakukan meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan gula darah sewaktu, pengukuran lingkar perut, berat badan, tinggi badan, hingga penilaian Indeks Massa Tubuh (IMT).

Suksessy menyebut bahwa meriksaan ditujukan untuk mendeteksi dini hipertensi, diabetes melitus, obesitas, serta faktor risiko lainnya.

Hasil pemeriksaan menunjukkan beberapa temuan penting. Di antaranya kasus perut buncit atau lingkar perut melebihi batas normal, tekanan darah tinggi baik yang baru terdeteksi maupun tidak terkontrol, serta beberapa warga dengan kadar gula darah tinggi yang mengarah pada risiko diabetes.

“Faktor risiko PTM cukup banyak kami temukan. Ini menjadi perhatian bersama,” ucap Suksessy.

Selain pemeriksaan, warga juga mengikuti sesi wawancara dan edukasi mengenai kebiasaan merokok, pola makan, aktivitas fisik, serta riwayat penyakit keluarga. Edukasi perilaku hidup sehat pun menjadi komponen penting untuk membantu warga mengontrol risiko PTM.

Tenaga kesehatan menekankan pentingnya perubahan gaya hidup mulai dari diet seimbang, rutin berolahraga, menghindari rokok, mengelola stres, hingga cukup istirahat.

“Pencegahan PTM bisa dimulai dari langkah sederhana jika dilakukan secara konsisten,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, hasil skrining yang menunjukkan risiko tinggi akan ditindaklanjuti dengan rujukan ke puskesmas. Warga diminta melakukan pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis dan penanganan profesional. (*)