(foto: IST)

IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Di tengah antusiasme penerimaan murid baru, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan mengungkapkan tantangan serius terkait daya tampung jenjang SMP.

Kepala Disdikbud Irfan Taufik memaparkan bahwa jumlah lulusan SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Balikpapan mencapai sekitar 13.000 anak per tahun. Sementara itu, kapasitas 28 SMP negeri hanya mampu menampung kurang lebih 8.500 siswa.

“Artinya, terdapat kekurangan daya tampung sebesar 4.000–5.000 anak yang harus disalurkan ke sekolah swasta,” ungkap Irfan, Senin (8/6/2026).

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menjalin kerja sama dengan 15 sekolah swasta yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah alias gratis. Kebijakan ini mencakup uang pangkal, SPP, hingga seragam.

Kelima belas sekolah swasta tersebut tersebar di berbagai kecamatan, antara lain:

  • Balikpapan Utara: SMP PGRI 4
  • Balikpapan Selatan: SMP Plus Nurul Khaerat, SMP Wiyata Mandala, SMPIT Al Azhar Prona
  • Balikpapan Barat: SMP PGRI 7, SMP Al Ula, SMPIT As’sadiyah Manuntung, MTs Ibnu Khaldun
  • Balikpapan Tengah: SMP PGRI 2, SMP Sabilal Muhtadin, MTs Sabilal Muhtadin
  • Balikpapan Kota: SMP YPI, SMP Sinar Pancasila, SMP Al Hassan
  • Balikpapan Timur: SMP PJHI

Irfan menyebutkan, di tahun 2025 kerja sama di 13 sekolah swasta mampu menampung 1.100 anak. Dengan tambahan dua sekolah baru di tahun ini, kapasitas penampungan meningkat menjadi sekitar 1.300 anak.

“Karena dirasakan manfaatnya, kerja sama ini terus kami perluas. Selain itu, kami juga prioritaskan peningkatan SDM para guru di sekolah-sekolah tersebut,” jelas Irfan.

Inovasi kerja sama dengan swasta ini bahkan mendapat apresiasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Penghargaan tersebut diserahkan langsung kepada Wali Kota Balikpapan, Dr. H. Rahmad Mas’ud S.E. M.E., atas keberhasilan kota dalam mengelola SPMB yang inklusif.

Pemerintah kota pun telah membangun enam sekolah baru di berbagai lokasi, termasuk SMPN 29 yang sedang dalam tahap pembangunan di kawasan Grand City, untuk terus menambah kapasitas negeri ke depan.

Irfan menegaskan bahwa meski terbatas, prinsip tanpa diskriminasi tetap dipegang.

“Di mata kami semua sekolah sama, tidak ada sekolah unggulan. Yang membedakan hanya lokasi dan minat masyarakat,” pungkasnya. (*/Adv Diskominfo Balikpapan)