IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Balikpapan menggelar kompetisi bahasa Inggris bertajuk “The Champion 2026 – Battle of Brains” di Atrium Pentacity Balikpapan Superblock (BSB), Minggu (2/8/2026).

Kegiatan berlangsung meriah dengan diikuti lebih dari 160 peserta siswa sekolah dasar, terdiri dari dua kategori, yakni kelas 1–3 SD dan kelas 4–6 SD.

“Kami menggandeng lembaga pendidikan bahasa Scobu, tujuan kegiatan tentu untuk mengedukasi dan memotivasi anak-anak agar lebih kreatif serta rajin berlatih berbahasa Inggris,” ujar Ketua DPC IWAPI Balikpapan, Yuli Shinta Noviyanti, saat diwawancarai media.

Menurut Yuli, pemilihan bahasa Inggris sebagai cabang lomba sangat strategis mengingat bahasa tersebut telah menjadi alat komunikasi internasional, baik dalam keseharian, bisnis, maupun hubungan antarbangsa.

“Kami ingin menyiapkan sumber daya manusia sejak dini. Anak-anak kita harus memiliki mental unggul dan kemampuan berbahasa asing yang mumpuni untuk menyambut Indonesia Emas,” tambahnya.

Tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik, IWAPI juga menekankan pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak-anak. Yuli menyoroti isu stunting yang masih menjadi perhatian pemerintah.

“Pendidikan yang baik tidak akan maksimal jika asupan gizinya kurang. Kami mendukung program sekolah rakyat dan makanan bergizi yang dicanangkan Presiden,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa peran ibu sangat penting, karena ibu adalah pendidik pertama yang mengenalkan bahasa dan nilai-nilai kehidupan kepada anak.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Dari total 164 pendaftar, sekitar 90 anak berada di kategori kelas 4–6 SD, dan lebih dari 50 anak di kategori kelas 1–3 SD. Hal menarik terjadi saat lomba berlangsung, beberapa anak menangis karena merasa belum mampu menjawab dengan sempurna.

“Itu justru menunjukkan motivasi besar mereka untuk maju dan tidak mau kalah. Kami melihat keinginan kuat mereka untuk menjadi anak yang pintar dan sehat,” imbuh Yuli.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan sistem gugur seperti lomba ranking 1, tahun ini panitia mengubah metode menjadi lebih ramah anak.

“Dulu ada ibu-ibu yang mengeluh karena anaknya baru mau tampil sudah tereliminasi. Kini kami rancang format yang lebih mengasah kemampuan secara bertahap, tanpa membuat anak patah semangat,” terangnya.

Pemanfaatan gadget juga menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Yuli menekankan bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk belajar, bukan bermain game atau mengakses konten negatif.

“Kami ajarkan anak-anak bahwa gadget adalah alat untuk membaca dan menggali pengetahuan, bukan untuk hal-hal yang merusak,” pungkasnya.

Kompetisi ini diharapkan menjadi wadah pembinaan karakter dan keterampilan berbahasa Inggris yang menyenangkan, sekaligus membangun generasi muda yang cerdas, sehat, dan berdaya saing global. (*)