
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Balikpapan kembali berlanjut di awal tahun 2026, usai para siswa menjalani libur sekolah.
Kepala KPPG Balikpapan Wilayah Kerja Kalimantan, Paska Pakpahan memastikan bahwa pendistribusian MBG di wilayah Balikpapan hingga saat ini berjalan dengan baik dan sesuai ketentuan.
Ia mengatakan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terlibat telah dipastikan memenuhi standar, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi bagi para siswa.
Proses pendistribusian ini sekaligus menjadi penyaluran perdana MBG di tahun 2026 setelah libur sekolah.
“Hari ini merupakan proses awal ya, perdana di 2026 dalam proses pendistribusian MBG. Saat ini, di SMK 4 itu ada sekitar 1080 MBG yang di distribusikan,” ujarnya saat dijumpai IKNBisnis.com disela-sela kegiatan, Kamis (8/1/2026).
Paska menuturkan, dari sisi kualitas, makanan yang disalurkan telah melalui perhitungan yang matang.
Setiap dapur SPPG, kata dia, telah dilengkapi tenaga ahli gizi yang bertugas memastikan standar nutrisi terpenuhi sesuai ketentuan.
“Terkait standarisasi pasti sudah dihitung gramasinya, sehingga dari hal itu dapat dipastikan juga bahwa dengan jumlah dana itu misal besarannya Rp15 ribu sangat tercukupi dalam segi pemenuhan gizinya,” terang Paska.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa peran Badan Gizi Nasional (BGN), khususnya melalui KPPG Balikpapan, difokuskan pada pengawasan menyeluruh terhadap proses pendistribusian.
Pengawasan tersebut mencakup ketepatan jadwal pengantaran, manfaat yang diterima siswa, hingga pelaksanaan operasional di dapur SPPG.
“Kami terus melakukan monitoring dan menerima informasi laporan secara berkala. Apabila ditemukan SPPG yang tidak sesuai dengan SOP maupun juknis, tentu akan kami berikan teguran,” tegas Paska.
Ia memastikan, pelaksanaan MBG yang saat ini dilakukan di SMKN 4 Balikpapan telah berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Ke depan, Paska berharap program MBG tidak hanya berfokus pada kelancaran distribusi, tetapi juga memperhatikan masukan dari sekolah dan para siswa sebagai penerima manfaat.
“Kami terbuka terhadap masukan, baik dari pengelola sekolah maupun siswa. Jangan sampai mereka merasa bosan dengan menu yang disajikan. BGN dan SPPG bukan anti kritik, justru masukan itu menjadi bahan evaluasi agar pelayanan ke depan semakin baik,” pungkasnya. (*)