
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Senyum bahagia tampak menghiasi wajah siswa-siswi SMKN 4 Balikpapan. Setelah libur sekolah, para siswa kembali menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana di tahun 2026, yang disambut dengan penuh antusias.
Menariknya, sajian menu MBG kali ini berbeda dari sebelumnya. Menu yang dihadirkan tidak hanya bergizi, tetapi juga menghadirkan cita rasa khas daerah yang familiar di lidah para siswa.
Adapun menu yang disajikan di hari pertama tahun 2026 di SMK 4 Balikpapan yakni Soto Banjar, lengkap dengan lauk pendamping yang memenuhi kebutuhan gizi siswa.
Tak kalah menarik, Ketua Yayasan Alkhalifiathariz Islamic School yang menaungi SPPG Balikpapan Selatan, Yuli Shinta Novianti yang turut memantau langsung proses penyaluran MBG juga mengenakan pakaian adat khas Banjar.
Penggunaan busana adat tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi bagian dari upaya edukasi untuk mengenalkan kekayaan budaya khas Kalimantan kepada para siswa.
“Kami berinisiasi tidak hanya menyajikan makanan tradisional untuk anak-anak, tetapi juga memperkenalkan kebudayaannya, baik melalui hidangan Soto Banjar maupun penggunaan baju adat Banjar. Dengan begitu, anak-anak dapat lebih mencintai Indonesia dan menikmati makanan dengan perasaan happy,” ujar Yuli, Kamis (8/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pendistribusian MBG di SMKN 4 ini dilakukan secara langsung bersama Kepala KPPG Balikpapan Wilayah Kerja Kalimantan, Paska Pakpahan dan juga Kepala SPPG Balikpapan Selatan.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk komitmen untuk memastikan kualitas makanan dan proses penyaluran berjalan sesuai standar.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan gizi, program MBG juga dimaknai sebagai sarana edukasi budaya. Melalui sajian Soto Banjar dan penggunaan busana adat Banjar, para siswa diperkenalkan pada tradisi kuliner sekaligus nilai-nilai kebudayaan lokal.
Menu Soto Banjar yang disajikan pun dipersiapkan secara lengkap dan seimbang. Mulai dari lontong daun, ayam suwir, perkedel kentang, telur rebus, hingga bihun, disajikan sesuai dengan kondimen khas yang biasa dinikmati dalam hidangan tersebut.
Komposisi ini disusun agar tetap memenuhi kebutuhan gizi siswa sekaligus mempertahankan cita rasa autentik.

Yuli menegaskan, pihaknya berkomitmen penuh untuk memberikan yang terbaik bagi para siswa. Program MBG, menurutnya, tidak boleh dijalankan secara asal-asalan, melainkan harus benar-benar dirasakan manfaat dan dampaknya oleh anak-anak.
“Kami ingin program ini membawa manfaat nyata. Memberi makan itu bukan asal-asalan, tetapi memastikan kualitas, gizi, dan nilai yang terkandung di dalamnya benar-benar baik untuk anak-anak,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMKN 4 Balikpapan, Emilia Monalita mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas menu MBG yang disajikan di awal tahun 2026 ini. Menurutnya, sajian Soto Banjar menjadi pilihan yang tepat karena selama ini menu berkuah masih terbilang jarang dihadirkan.
Ia menilai, menu tradisional tersebut mendapat respons yang sangat positif dari para siswa. Antusiasme terlihat jelas sejak proses pengambilan hingga saat menikmati hidangan yang disajikan.
“Menunya hari ini spesial sekali. Selama ini memang jarang ada menu berkuah, dan ini menu tradisional. Tadi bisa dilihat sendiri bagaimana respons anak-anak, luar biasa,” kata Emilia.
Ia juga menegaskan bahwa program MBG sangat dirasakan manfaatnya oleh para siswa. Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi, program ini turut meringankan beban pengeluaran harian, terutama bagi siswa yang kerap berangkat sekolah tanpa sempat sarapan.
“Anak-anak di sini memang senang sekali kalau ada MBG. Selain menghemat uang saku, ada juga anak-anak yang kadang berangkat tidak sarapan. Jadi program ini sangat membantu,” jelasnya.
Ia berharap kualitas dan keberagaman menu MBG dapat terus dipertahankan ke depannya. Menurutnya, konsistensi rasa dan mutu makanan menjadi kunci agar manfaat program ini benar-benar berkelanjutan.
Tak hanya soal menu, Emilia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Yayasan Alkhalifiathariz Islamic School, Yuli Shinta Novianti, yang turun langsung memantau pelaksanaan MBG di lapangan.
Ia menyebut, langkah tersebut sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan dan kualitas program yang dijalankan.
“Saya sangat mengapresiasi Bu Yuli yang mau turun langsung ke lapangan untuk memantau. Jarang ada yang mau terjun sendiri, biasanya hanya mendelegasikan. Dengan melihat langsung, beliau bisa menyaksikan sendiri betapa antusiasnya anak-anak saat mengambil MBG,” pungkasnya. (*)