
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Ketua Pengurus Provinsi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalimantan Timur, Ar. Wahyullah Bandung, ST, MSi menilai pentingnya ruang diskusi dan kritik dalam dunia arsitektur yang saat ini dirasa masih terbatas, utamanya dalam perancangan bangunan publik seperti masjid.
Kondisi tersebut berpotensi membuat praktik arsitektur berjalan tanpa koreksi substansial dan semakin menjauh dari kebutuhan sosial masyarakat.
Menurut Wahyullah, arsitektur seharusnya dipahami sebagai praktik terbuka yang siap diuji melalui dialog dan kritik.
“Pelaksanaan diskusi dan kritik itu penting. Karena, tanpa hal itu, arsitektur tidak berkembang,” kata Wahyullah dalam diskusi Garis 12 di Hitam Manis Heritage, Balikpapan, Selasa (13/1/2026).
Wahyullah mengatakan, tantangan profesi arsitek saat ini tidak semata berkaitan dengan penguasaan aspek teknis, melainkan juga kemampuan memahami konteks sosial dan budaya di mana sebuah karya dibangun.
Ia menegaskan pentingnya kepekaan arsitek dalam membaca realitas masyarakat agar desain yang dihasilkan tidak menjelma menjadi produk elitis yang terlepas dari penggunannya.
Dalam konteks perancangan masjid, Wahyullah juga menyoroti persoalan yang seringkali muncul pada tahap pelaksanaan.
Menurutnya, perubahan konsep sering kali tak terhindarkan akibat keterlibatan banyak pihak, mulai dari panitia pembangunan hingga pergantian kepengurusan masjid, yang pada akhirnya memengaruhi konsistensi gagasan awal desain.
“Perubahn pola desain di tengah jalan itu sering terjadi karena masjid dibangun bersama-sama dan adanya banyak kepentingan,” tuturnya.
Akibatnya, lanjut dia, arsitek didorong agar bukan hanya piawai, namun juga mampu berkomunikasi serta menerangkan substansi desain kepada masyarakat.
Selain itu, Ia turut menyoroti kecenderungan pembangunan masjid yang lebih berorientasi pada pencapaian bentuk monumental dan daya tarik visual yang mudah viral.
Wahyullah menyampaikan, pendekatan tersebut berpotensi mengaburkan fungsi utama masjid serta mengesampingkan prinsip-prinsip mendasar yang seharusnya menjadi pijakan dalam perancangan.
Berkaca pada pengalamannya sebagai juri sayembara Islamic Center Kutai Timur, Wahyullah mengungkapkan bahwa karya yang terpilih justru mengambil arah sebaliknya.
Desain tersebut tidak mengejar kemegahan semata, melainkan merespons kondisi tapak yang berkontur dengan menempatkan bangunan agar menyatu secara harmonis dengan lanskap sekitarnya.
“Bangunan keagamaan tidak harus tampil menonjol. Kontektualitas justru menjadi nilai penting,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, Wahyullah juga mendorong arsitek muda dan mahasiswa agar aktif terlibat dalam forum diskusi dan terbuka terhadap kritik yang menjadi bagian penting dari proses belajar.
Dengan keterbukaan terhadap dialog dan kritik, diharapkan lahir praktik arsitektur yang lebih reflektif, inklusif, dan berakar pada kebutuhan nyata masyarakat, sehingga setiap karya termasuk bangunan keagamaan tidak hanya hadir sebagai simbol visual, tetapi juga sebagai ruang yang hidup, bermakna, dan fungsional bagi penggunanya. (*)