
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Puskesmas Baru Ilir menaruh perhatian serius terhadap kondisi kesehatan pekerja di wilayahnya.
Risiko penyakit akibat faktor ergonomi dan Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi temuan yang paling dominan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan edukasi lapangan yang telah dilaksanakan.
Perawat Puskesmas Baru Ilir, Ainun, menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat wilayah Baru Ilir merupakan pekerja swasta, termasuk karyawan perusahaan dan sektor UMKM.
Ia menyebut bahwa pola kerja yang menuntut aktivitas fisik dan postur tubuh tidak ideal menjadi penyebab utama gangguan kesehatan kerangka tubuh.
“Untuk penyakit pekerjanya, biasanya ergonomi. Salah posisi kerja atau salah mengangkat, posisi monoton, dapat menyebabkan sakit bagian pinggang/low back pain kata Ainun saat ditemui diruang kerjanya, Sabtu (29/11/2025).
Selain penyakit ergonomi, pemeriksaan PTM menjadi kegiatan rutin yang dilakukan untuk deteksi dini risiko hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung.
Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan gula darah, tekanan darah, dan parameter kesehatan lainnya sebagai indikator awal pencegahan.
“Screening hipertensi, screening gula, kolesterol, asam urat, deteksi dini PTM menjadi fokus kami, karena ini paling banyak terjadi pada pekerja usia produktif,” ujarnya.
Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan pekerja, Puskesmas Baru Ilir menjalankan penyuluhan kesehatan dan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) yang melibatkan tenaga kesehatan lintas program.
Kegiatan diselenggarakan idealnya setiap bulan, namun saat ini masih dilaksanakan setiap tiga bulan sekali menyesuaikan jadwal dan pendanaan.
Diketahui, Pos UKK berisi penyuluhan faktor risiko penyakit akibat kerja serta tes kebugaran fisik. Edukasi dilakukan dengan pendekatan langsung kepada pekerja melalui sesi konsultasi kesehatan personal.
Ainun mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja adalah keterbatasan waktu peserta dan dukungan biaya operasional.
“Waktu dan biaya masih menjadi tantangan, karena kami juga perlu menyediakan konsumsi dan alat pemeriksaan yang memadai. Tapi layanan tetap berjalan,” tuturnya.
Kendati demikian, pihaknya menegaskan komitmen untuk memperkuat pelayanan promotif dan preventif untuk mencegah risiko kesehatan jangka panjang pada pekerja. (*)