IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan menyelenggarakan Kompetisi Debat Demokrasi Antarperguruan Tinggi 2026. Kegiatan yang diikuti oleh tujuh kampus ini digelar sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran politik di kalangan mahasiswa. Sehingga mampu mendorong demokrasi yang berkualitas, menolak praktik politik uang, serta melawan penyebaran berita bohong (hoaks).
‎
‎Bertema “Mewujudkan Demokrasi Berkualitas Melalui Partisipasi Aktif, Cerdas dan Bertanggung Jawab”, kompetisi ini diikuti Universitas Balikpapan (Uniba), STIEPAN, Universitas Mulia, Institut Teknologi Kalimantan (ITK), STAIBA, STIS Hidayatullah, dan STT Migas.
‎
‎Rangkaian kompetisi dimulai dengan babak penyisihan pada 21 Oktober, dilanjutkan semifinal 22 Oktober, dan berpuncak pada babak final 28 Oktober 2026.
‎
‎Pada final, STT Migas bertanding melawan Universitas Mulia untuk memperebutkan posisi ketiga dan keempat, sementara Universitas Balikpapan berhadapan dengan STIEPAN dalam perebutan juara pertama dan kedua.
‎
‎Hadiah yang disediakan meliputi Rp3 juta untuk juara pertama, Rp2,25 juta bagi juara kedua, Rp1,5 juta untuk juara ketiga, dan Rp1 juta untuk juara keempat.
‎
‎Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, menjelaskan bahwa kompetisi debat merupakan bagian dari program sosialisasi dan pendidikan pemilih yang berkelanjutan. Metode debat dipilih karena mendorong peserta untuk aktif mencari informasi, mengumpulkan data, dan menguji argumentasi berdasarkan sumber yang dipelajari.
‎
‎“Dengan debat, mereka mencari informasi, mencari data, dan mengkurasi berbagai sumber untuk menjadi bahan argumentasi,” ujar Yudho, Rabu (28/10/2026).
‎
‎Menurutnya, pendekatan ini berbeda dari sosialisasi tatap muka yang cenderung bersifat satu arah. Melalui debat, mahasiswa dituntut memahami persoalan secara lebih mendalam, menyusun argumentasi, serta menanggapi pandangan yang berbeda.
‎
‎Adapun, salah satu isu yang diangkat berkaitan dengan faktor pembentuk demokrasi berkualitas, yakni apakah harus dimulai dari pemilih yang cerdas atau dari partisipasi masyarakat yang luas. Yudho menilai kedua perspektif memiliki argumentasi sekaligus kelemahan masing-masing.
‎
‎Diskusi kritis diharapkan membantu mahasiswa tidak hanya memahami demokrasi secara teoritis, tetapi juga mampu menentukan sikap ketika menghadapi kontestasi Pemilu maupun Pilkada.
‎
‎KPU mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dari beragam latar belakang, termasuk kampus teknik dan keagamaan. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa isu demokrasi dapat dibahas lintas disiplin ilmu.
‎
‎Meski demikian, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kelancaran perlombaan. Tantangan selanjutnya adalah memastikan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dapat disebarluaskan ke lingkungan kampus dan masyarakat.
‎
‎Yudho berharap para peserta menjadi agen perubahan yang menyebarkan pemahaman tentang demokrasi berkualitas, mengajak masyarakat menolak politik uang, serta lebih kritis terhadap berita bohong dan ujaran kebencian.
‎
‎KPU Balikpapan juga membuka peluang menjadikan kompetisi debat sebagai agenda rutin sekaligus memperluas pendidikan demokrasi ke kelompok masyarakat lainnya.
‎
‎Di tengah keterbatasan anggaran, Yudho menilai penyelenggara perlu terus mencari pendekatan kreatif agar pendidikan pemilih tidak hanya berlangsung menjelang pemungutan suara.
‎
‎Ia menekankan bahwa membangun kesadaran demokrasi merupakan investasi jangka panjang. Sebab, kualitas pemimpin yang lahir dari proses Pemilu dan Pilkada akan sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat mampu bersikap kritis, menolak praktik kotor, dan menjaga integritas demokrasi di setiap tingkatan. (*/)
‎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *