
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat Kalimantan Timur, terutama warga pesisir dan pengguna jasa transportasi laut, agar lebih waspada selama bulan Maret 2026.
Bulan ini ditandai sebagai puncak musim hujan di wilayah tersebut, yang berpotensi membawa curah hujan lebih tinggi serta peningkatan tinggi gelombang laut.
Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menyatakan bahwa secara klimatologis, Maret memang menjadi periode puncak musim hujan di Kaltim.
“Artinya dibandingkan bulan sebelumnya, curah hujan di bulan Maret biasanya lebih tinggi, sementara pada bulan April mulai mengalami penurunan,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).
Dari aspek kemaritiman, BMKG mencatat bahwa tinggi gelombang di perairan Balikpapan pada Maret umumnya berada di rentang 0,5 hingga 2 meter, berdasarkan data pengamatan sekitar 25 tahun terakhir. Meski termasuk kategori normal untuk wilayah ini, kondisi tersebut tetap memerlukan perhatian ekstra dari nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir.
Selain gelombang laut, BMKG juga menyoroti potensi kenaikan muka air laut yang dipengaruhi oleh fase bulan baru dan posisi bulan yang lebih dekat dengan bumi. Fenomena ini dapat memicu pasang air laut lebih tinggi, meskipun tidak selalu menyebabkan banjir rob. Namun, jika berbarengan dengan pasang maksimum, genangan air di area pesisir bisa terjadi.
Djoko menambahkan bahwa periode pasang tinggi diperkirakan mulai muncul sekitar 20 Maret 2026.
“Kenaikan muka air laut tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Sungai Berau, kemudian diikuti wilayah Balikpapan dan Sungai Mahakam, dengan potensi kenaikan air mencapai sekitar 2,7 meter,” paparnya.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan genangan atau banjir rob di beberapa lokasi. Masyarakat dan pelaku aktivitas laut diminta rutin memantau update informasi cuaca resmi dari BMKG guna mengantisipasi perubahan kondisi yang cepat selama musim hujan ini.
Dengan persiapan yang baik dan pemantauan berkala, diharapkan risiko dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan di wilayah Kalimantan Timur. (*)