IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Puskesmas Baru Ilir memberikan perhatian khusus terhadap tingginya konsumsi minuman manis di SDN 007 Balikpapan Barat. Dalam pemantauan yang dilakukan bersamaan dengan sosialisasi kantin sehat, petugas menemukan bahwa sebagian besar siswa lebih memilih minuman kemasan bergula tinggi dibanding air mineral atau minuman alami.

Kondisi itu dianggap perlu segera ditangani mengingat anak-anak merupakan kelompok usia yang paling mudah terdampak oleh asupan gula berlebih.

Petugas Kesling Puskesmas Baru Ilir, Cica Rahmawati, menyampaikan bahwa pola ini terlihat hampir setiap hari. Banyak siswa membeli minuman berwarna mencolok, minuman dingin dengan pemanis tambahan, atau minuman ringan kemasan.

“Masalahnya bukan pada produknya sendiri, tapi pada frekuensinya. Banyak anak membeli minuman manis dua sampai tiga kali dalam sehari,” ujar Cica saat diwawancara media, Kamis (20/11/2025).

Menurutnya, konsumsi gula berlebih dapat memicu berbagai masalah kesehatan pada anak, mulai dari gigi berlubang, peningkatan berat badan, hingga menurunnya konsentrasi belajar.

Anak-anak pada usia sekolah dasar juga belum mampu mengatur pola makan mereka sendiri. Cica mengungkapkan bahwa mereka cenderung memilih berdasarkan rasa, warna, dan kemasan yang menarik. Itulah mengapa edukasi menjadi langkah penting.

Dalam sosialisasi yang dilakukan, Puskesmas memberikan penjelasan sederhana kepada siswa mengenai dampak konsumsi gula berlebihan.

Anak-anak pun diajak mengenali perbedaan antara minuman sehat dan minuman manis, serta bagaimana memilih jajanan yang tidak membahayakan tubuh mereka. Pendekatan dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami agar pesan tersampaikan efektif.

Selain kepada siswa, edukasi juga diberikan kepada pedagang kantin. Puskesmas mendorong pedagang untuk menyediakan pilihan minuman yang lebih sehat, seperti air mineral, infused water sederhana, atau minuman buah yang tidak menggunakan gula tambahan berlebihan.

“Kami tidak melarang dagangan mereka. Tetapi kami minta opsi minuman sehat juga diperbanyak. Anak-anak akan memilih kalau ada pilihan,” tekan Cica.

Sekolah juga diajak terlibat dalam pengawasan konsumsi gula di lingkungan sekolah. Guru dan pihak manajemen sekolah diharapkan membuat kebijakan internal sederhana, misalnya mendorong siswa membawa botol air minum dari rumah, atau membatasi jam tertentu untuk membeli minuman manis.

Dengan langkah kecil seperti ini, sebut Cica, maka pola konsumsi siswa dapat diarahkan ke arah yang lebih sehat. Puskesmas Baru Ilir menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi cepat.

Namun peningkatan kesadaran, baik dari pedagang, siswa, maupun pihak sekolah, diyakini akan membawa dampak positif dalam jangka panjang.

Dengan pembinaan yang konsisten, ia berharap, kantin SDN 007 dapat menyediakan lebih banyak pilihan minuman sehat dan membentuk kebiasaan baru yang lebih baik bagi anak-anak. (*)

Penulis: TJakra