IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Puskesmas Baru Tengah terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan anak di wilayah kerjanya. Salah satu fokus utama adalah percepatan cakupan imunisasi dasar lengkap yang saat ini telah mencapai sekitar 77 persen.

Meski belum menyentuh target 100 persen, upaya penjangkauan terus dilakukan secara intensif.

Dokter fungsional Puskesmas Baru Tengah, dr. Harpina, menjelaskan masih adanya sejumlah orang tua yang menolak imunisasi menjadi tantangan di lapangan.

“Targetnya itu 100 persen, tapi karena ada beberapa orang tua yang menolak dan masih anti-vaksin, jadi belum maksimal,” ucapnya saat ditemui, pada Jum’at (28/11/2025).

Untuk mengejar ketertinggalan, puskesmas menjalankan strategi sweeping door to door melalui program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

“Kalau mereka tidak datang ke puskesmas untuk imunisasi, petugas yang turun ke lapangan dengan membawa nama-nama anak yang belum lengkap imunisasinya,” sambung dr. Harpina.

Selain imunisasi, upaya peningkatan status gizi anak terus dilakukan melalui layanan posyandu dan pemantauan rutin tumbuh kembang di tingkat RT. Pemerintah juga menyediakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk anak dengan risiko gizi kurang dan gizi buruk.

“Harapannya tidak ada lagi yang terlewat. Penanganannya 100 persen dilakukan,” tegas dr. Harpina.

Pemeriksaan pertumbuhan dan kesehatan anak melalui posyandu menjadi layanan paling banyak diakses. Selain itu, puskesmas juga menyasar sekolah melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Hampir semua anak sekolah sudah dilakukan pemeriksaan CKG. Gencar pelaksanaannya,” sebutnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, pihaknya mencatat peningkatan kasus infeksi saluran napas seperti batuk dan influenza, serta penyakit kulit skabies akibat kondisi lingkungan lembab dan minim paparan sinar matahari.

Adapun, layanan pemantauan tumbuh kembang balita tetap tersedia melalui buku KIA dan pemeriksaan langsung oleh kader posyandu. Apabila ditemukan gangguan perkembangan, anak akan dirujuk untuk layanan terapi lanjutan di fasilitas kesehatan.

Menurut dr. Harpina, tantangan terbesar saat ini adalah pemahaman orang tua, terutama terkait penggunaan gawai.

“Karena sering diberikan handphone, interaksi anak berkurang sehingga bisa tampak seperti gangguan perkembangan. Padahal ini karena pemahaman yang salah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa anak usia di bawah 5 tahun sebaiknya tidak diberikan gawai, atau jika terpaksa, maksimal di bawah 1 jam dengan pengawasan.

Pelayanan kesehatan anak dilakukan sejak masa kehamilan dengan deteksi dini risiko gangguan tumbuh kembang janin, kemudian pendampingan posyandu balita, hingga pemeriksaan kebugaran dan kesehatan berkala untuk anak sekolah.

“Anak-anak terus dipantau agar setiap hari kondisinya lebih baik,” tutup dr. Harpina. (*)

Penulis: Yandri Rinaldi