IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Puskesmas Baru Tengah terus memperkuat layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi pasien HIV di wilayah kerjanya.

Saat ini, lebih dari 50 pasien tercatat secara rutin mengambil obat Antiretroviral (ARV) di fasilitas kesehatan tersebut.

Hal itu disampaikan oleh dr. Agustinus Wendhi Widata, dokter umum yang menangani layanan tersebut.

Menurut dr. Wendhi, seluruh pasien HIV mendapatkan pelayanan dengan alur khusus yang dirancang untuk menjaga kenyamanan dan mengurangi hambatan administrasi.

“Pasien HIV memiliki jalur prioritas, sehingga tidak perlu antre seperti pasien lain. Pemeriksaan viral load juga dilakukan setiap enam bulan hingga satu tahun untuk menilai keberhasilan terapi,” jelasnya saat diwawancara, Jumat (28/11/2025).

Selain ARV, pasien juga mendapatkan berbagai layanan tambahan, mulai dari cek kesehatan gratis (CKG), skrining penyakit tidak menular, hingga layanan penunjang lainnya seperti pasien umum.

“Prinsipnya, mereka mendapatkan perlakuan yang sama, lengkap, dan manusiawi,” ucapnya.

Setibanya di puskesmas, sebut dr. Wendhi, pasien langsung mengambil antrian F, jalur prioritas untuk pendaftaran.

Setelah itu, mereka menuju nurse station untuk pemeriksaan dasar, kemudian berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan resep ARV maupun obat pendukung lainnya sesuai kondisi klinis. Obat kemudian diambil di instalasi farmasi puskesmas.

Model alur tersebut, ujarnya, mempercepat pelayanan sekaligus meminimalkan risiko paparan stigma di ruang-ruang tunggu umum.

Salah satu tantangan utama yaitu memastikan pasien tetap minum ARV secara teratur. Efek samping obat yang cukup mengganggu pada fase awal pengobatan sering membuat pasien merasa kewalahan.

Meski demikian, dukungan relawan pendamping sangat membantu fase adaptasi pasien.

“Ada kelompok pendamping dari para relawan. Mereka mendampingi pasien melewati fase awal sehingga tidak mudah menyerah. Itu sangat krusial,” ungkap dr. Wendhi.

Meski edukasi terus dilakukan, stigma terkait HIV masih menjadi persoalan serius. Banyak pasien yang memilih puskesmas jauh dari lingkungan rumahnya untuk mengambil obat, semata karena takut diketahui keluarga maupun tetangga.

“Ini justru merepotkan pasien sendiri. Tapi ketakutan akan stigma itu nyata,” tutur dr. Wendhi.

Untuk memperluas akses layanan, Puskesmas Baru Tengah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dokter praktek mandiri dan klinik swasta.

Kolaborasi itu, ungkapnya, dapat memudahkan pasien dari fasilitas kesehatan lain untuk melakukan pemeriksaan HIV secara gratis di puskesmas.

Lebih lanjut, puskesmas juga bekerja sama dengan kelompok penjangkau dan pendamping pasien HIV, di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Balikpapan, untuk penemuan kasus baru.

Ia menyebut bahwa edukasi masyarakat juga dilakukan secara aktif di sekolah, instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga komunitas.

Di sisi lain, Puskesmas Baru Tengah secara rutin melakukan kunjungan dan pemeriksaan HIV ke Lapas, Rutan, hingga tempat hiburan malam.

Baginya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menekan penyebaran kasus baru.

Ia mengungkapkan bahwa edukasi merupakan strategi utama dalam pencegahan infeksi baru. Melalui penyuluhan yang dilakukan secara aktif di berbagai titik di wilayah Kelurahan Baru Tengah, bahkan hingga keluar wilayah kerja ketika dibutuhkan.

“Edukasi itu kunci. Semakin banyak masyarakat yang memahami HIV dan cara penularannya, semakin kecil potensi stigma dan semakin besar peluang deteksi dini,” tegasnya.

Dengan berbagai langkah terkait, Puskesmas Baru Tengah berharap layanan PDP HIV dapat terus memperkuat upaya penanganan dan pencegahan HIV di Balikpapan, sekaligus memastikan pasien mendapatkan akses pengobatan yang layak, aman, dan bebas stigma. (*)

Penulis: Yandri Rinaldi