‎BALIKPAPAN – Kualitas udara yang kian memburuk di kota Balikpapan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), memaksa Pemerintah Kota mengambil keputusan cepat.
‎
‎Mulai Rabu (14/10/2026), seluruh kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah dasar dan menengah pertama dialihkan ke rumah masing-masing peserta didik. Kebijakan ini berlaku selama tiga hari dan akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi udara.
‎
‎Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah pemerintah kota berkonsolidasi dengan sejumlah pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), serta mendengar masukan dari masyarakat.
‎
‎”Melihat kondisi Balikpapan dan asap ini, serta masukan dari masyarakat, dengan pertimbangan menjaga kesehatan anak-anak kita, mulai besok Rabu kita mengambil langkah untuk sekolah jarak jauh,” ujar Rahmad saat ditemui, Selasa (13/10/2026).

Rahmad menegaskan, meski hujan sempat mengguyur kota pada Selasa, pemerintah tidak mau berspekulasi terhadap risiko kesehatan para pelajar. Hasil pengukuran udara menunjukkan kondisi yang sudah mendekati ambang tidak sehat.
‎
‎”Kita lihat dulu tiga hari ke depan. Kalau memang asap ini mulai reda, nanti kita evaluasi. Langkah ini harus kita ambil untuk menjaga anak-anak kita, jangan sampai terdampak terhadap kesehatannya,” terangnya.
‎
‎Pembelajaran jarak jauh atau PJJ ini, lanjut Rahmad, bukan berarti siswa diliburkan. Kegiatan belajar tetap harus berlangsung dengan pengawasan orang tua dan pemantauan kehadiran oleh pihak sekolah.
‎
‎”Kami juga berpesan kepada orang tua untuk mengawasi anak-anak, memastikan mereka tetap absen dan belajar seperti biasa. Ini menyangkut kesehatan anak-anak kita,” lanjut dia.
‎
‎Kebijakan ini menyasar sekolah di bawah kewenangan Pemkot Balikpapan, terutama jenjang SD dan SMP. Adapun SMA berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sehingga Pemkot akan berkomunikasi dengan pemerintah provinsi agar langkah perlindungan kesehatan pelajar dapat dikoordinasikan.
‎
‎Tiga hari ke depan akan menjadi penentu. Jika kualitas udara membaik, pembelajaran tatap muka berpotensi kembali digelar. Namun jika asap masih pekat, opsi pembelajaran jarak jauh perlu diperpanjang demi menjaga kesehatan anak-anak. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *