IKNBISNIS.COM, FLORES – Basarnas melaporkan terkait situasi pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (16/8/2026) pukul 17.00 WIB.

pihaknya mencatat jumlah korban bertambah menjadi 51 orang meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka, termasuk luka berat.

Dengan demikian, total sementara korban terdampak mencapai 183 orang. Basarnas memastikan hingga data terakhir tidak ditemukan korban yang masih tertimbun.
Namun, data tersebut masih bersifat sementara dan terus diverifikasi serta dikonsolidasikan oleh petugas di lapangan.

Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 104 orang. Rinciannya 20 orang meninggal dunia, 25 mengalami luka berat dan 59 luka ringan.
Di wilayah Manggarai/Reo-Reok tercatat 46 korban, terdiri dari 24 meninggal dunia, delapan luka berat dan 14 luka ringan.

Sementara itu, Kabupaten Ende mencatat 15 korban, dengan satu orang meninggal dunia, tiga luka berat dan 11 luka ringan. Kabupaten Manggarai Barat terdapat tujuh korban, yakni satu meninggal dunia, dua luka berat dan empat luka ringan.

Selanjutnya, Kabupaten Sikka mencatat enam korban, terdiri dari empat meninggal dunia dan dua luka-luka. Sedangkan Kabupaten Nagekeo terdapat lima korban, dengan satu meninggal dunia dan empat luka ringan. Untuk Kabupaten Ngada, data korban masih dalam proses identifikasi.

Basarnas juga melakukan koreksi administrasi setelah verifikasi di lapangan menemukan adanya korban yang sebelumnya tercatat sebagai warga Kabupaten Manggarai Timur, namun ternyata berasal dari Kabupaten Manggarai.

Koreksi tersebut membuat jumlah korban meninggal dunia di Manggarai Timur berubah dari 21 menjadi 20 orang. Sementara korban meninggal di Manggarai/Reo-Reok bertambah dari 23 menjadi 24 orang.

Perubahan tersebut tidak mengurangi jumlah korban secara keseluruhan. Data masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi.
Operasi SAR Masih Berjalan

Tim SAR gabungan hingga kini masih melakukan assessment, pencarian, pertolongan, evakuasi, serta penanganan korban di sejumlah wilayah terdampak.

KN SAR 250 Puntadewa dikerahkan untuk mendukung operasi SAR sekaligus membawa bantuan kemanusiaan menuju wilayah Nagekeo.
Basarnas juga terus berkoordinasi dengan TNI/Polri, BPBD, pemerintah daerah, PMI, BMKG dan berbagai potensi SAR untuk memperkuat penanganan bencana.

Sejumlah wilayah masih menghadapi kendala akses akibat longsoran dan rockfall. Gangguan komunikasi juga masih ditemukan di beberapa lokasi. Untuk menjaga kelancaran koordinasi, jaringan Starlink digunakan sebagai dukungan komunikasi bagi tim SAR.

Aktivitas gempa susulan juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi, terutama untuk memastikan keselamatan personel dan rescuer di lapangan.

Dukungan Udara dan Armada Laut Disiapkan
Basarnas menyiapkan helikopter HR-3604 untuk mendukung operasi sesuai kebutuhan. Penguatan juga datang dari potensi nasional TNI AL yang tengah dipersiapkan untuk membantu operasi kemanusiaan.

Sejumlah armada yang disiapkan antara lain KRI Hiu di Kupang yang direncanakan bertolak pada 20 Agustus 2026, KRI Bung Hatta-370 yang bergerak dari Bau-Bau menuju wilayah terdampak dan diarahkan ke Pelabuhan Reo, serta KRI SHS-990 di Surabaya yang masih menjalani proses debarkasi dan pemuatan peralatan serta material.

Dukungan udara lainnya meliputi pesawat Cassa TNI AL dari Kalimantan Utara yang masih menunggu informasi lanjutan serta helikopter Bell-412 Puspenerbal di Denpasar dalam status BKO Kodam Udayana.

Seluruh kekuatan tersebut akan digunakan sesuai kebutuhan dan perkembangan situasi di lapangan.

Hingga Minggu sore, operasi masih berada pada tahap pencarian dan pertolongan serta assessment dampak gempa. Fokus utama meliputi pencarian korban, evakuasi, pendataan, penguatan sektor operasi dan keselamatan rescuer.

Basarnas menegaskan perkembangan jumlah korban maupun dampak kerusakan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan konsolidasi data.

Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii juga telah menyampaikan perkembangan penanganan pascagempa Flores kepada Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Sekretaris Negara. Laporan tersebut turut ditembuskan kepada Menko PMK, Seskab, Panglima TNI, Kapolri, Kepala BNPB dan Kepala BMKG.

Operasi SAR dan assessment akan terus dilanjutkan hingga kondisi di wilayah terdampak dapat dipetakan secara lebih menyeluruh. (*)