
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Jadwal keberangkatan KM Dharma Ferry VII Rute Balikpapan–Surabaya sempat tertahan cukup lama di Pelabuhan Semayang Balikpapan, Selasa (4/8/2026).
Kapal yang seharusnya bertolak pukul 06.00 Wita masih bertahan di dermaga hingga sekitar pukul 12.00 Wita, membuat ratusan hingga ribuan penumpang harus menunggu berjam-jam.
Kondisi tersebut menimbulkan keluhan dari penumpang karena mengganggu rencana perjalanan yang sudah disusun jauh-jauh hari.
“Saya sudah membeli tiket bus menuju Gresik dengan menyesuaikan jadwal kedatangan kapal. Karena kapal terlambat berangkat, kemungkinan besar tiket itu hangus dan saya harus membeli tiket baru,” ujar Dauhari, salah seorang penumpang KM Dharma Ferry VII.
Keluhan lain disampaikan oleh Indrawati. Ia menyebutkan keterlambatan kapal ikut memengaruhi masa cutinya.
“Saya sudah menunggu sejak pagi, tetapi kapal belum juga berangkat. Akibatnya saya harus mengajukan tambahan izin karena waktu cuti yang saya miliki tidak lagi cukup,” katanya.
Menanggapi situasi ini, Pimpinan PT Dharma Lautan Utama Cabang Balikpapan, M. Saleh, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang. Ia menjelaskan bahwa penundaan disebabkan oleh keterlambatan pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional kapal.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna jasa. Keterlambatan ini bukan karena kendala teknis kapal, melainkan pasokan BBM yang belum tiba sesuai jadwal sehingga kapal belum bisa diberangkatkan,” terang Saleh.
Menurutnya, armada DLU selama ini memakai Biosolar B40. Setelah pemerintah menerapkan mandatori Biosolar B50 sejak 1 Juli 2026, distribusi BBM untuk kapal beberapa kali mengalami keterlambatan. Akibatnya, sejumlah jadwal pelayaran ikut terdampak karena kapal harus menunggu pasokan bahan bakar sebelum dapat beroperasi.
Saleh menyebut, DLU pernah menggunakan BBM industri sebagai solusi agar pelayaran tetap berjalan. Namun langkah tersebut dinilai tidak bisa diterapkan terus-menerus karena harganya jauh lebih mahal dibandingkan BBM bersubsidi. Selain menanggung kenaikan biaya operasional, perusahaan juga harus menyediakan konsumsi bagi penumpang sebagai bentuk kompensasi jika keterlambatan berlangsung lama.
“Awalnya kami memperkirakan persoalan ini hanya bersifat sementara sehingga kami masih bisa mengantisipasi dengan menggunakan BBM industri. Namun hingga sekarang kendala pasokan masih terus terjadi,” kata Saleh.
Ia mengungkapkan, sejak penerapan mandatori B50, sedikitnya lima jadwal keberangkatan kapal DLU mengalami keterlambatan akibat persoalan pasokan BBM. Meskipun belum memengaruhi jumlah pengguna jasa, DLU khawatir kondisi tersebut dapat menurunkan kepercayaan masyarakat apabila terus berulang.
“Kami berharap distribusi BBM kembali lancar sehingga jadwal pelayaran dapat berjalan normal dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.
Sementara pihak Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan hingga saat ini masih belum memberikan penjelasan resmi terkait isu keterlambatan distribusi BBM yang disebut menjadi penyebab molornya keberangkatan kapal. (*)