IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Tingginya kasus Kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terus meningkat menjadi perhatian serius Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia (RI).

Hingga 24 Agustus 2025, Kementerian PPPA mencatat 19.535 laporan kasus. Angka tersebut naik signifikan dari 11.385 kasus pada pertengahan Juni 2025.

Hal ini disampaikan Menteri (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi saat memberikan sambutan dalam peluncuran Ruang Bersama Indonesia (RBI) Kota Balikpapan di Taman Bekapai, Jum’at (29/8/2025).

Pada kesempatan itu, Arifatul Choiri mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kasus Kekerasan, diantaranya ekonomi, pola asuh, hingga penggunaan gadget yang tidak terkontrol.

Menurutnya, dalam faktor ekonomi sebagian besar perempuan tidak berani berbicara maupun bersikap ketika mengalami kekerasan karena merasa bergantung secara finansial.

Karena itu, dukungan dan pembinaan dinilai penting untuk menguatkan perempuan agar berani menyuarakan suara mereka, sehingga kasus kekerasan dapat ditekan.

Adapun, faktor kedua terkait pola asuh dalam keluarga. Ia menilai tantangan yang dihadapi orang tua, khususnya ibu-ibu muda, saat ini jauh berbeda dibandingkan masa dahulu.

“Faktor kedua yakni pola asuh, dalam keluarga mungkin ibu-ibu muda sekarang menyadari dan memahami bahwa sulit sekali saat ini mengasuh anak-anak, berbeda saat kita waktu masih kecil.

Sekarang ketika anak menangis, apa yang diberikan? HP. Anak tidak mau makan, dikasihnya HP. Jadi jangan heran kalau anak-anak sekarang lebih sulit diarahkan, berbeda dengan dulu ketika kita dididik dengan sentuhan langsung dari orang tua,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti dampak penggunaan gadget yang berlebihan terhadap anak. Dari kasus kekerasan anak yang ditangani langsung oleh Kementerian PPPA, disebutkan 90 persen penyebab utamanya terkait dengan penggunaan gadget.

“Ini sangat memprihatinkan bila kita tidak bisa melakukan pendampingan kepada anak-anak. Melarang mereka sepenuhnya juga sulit, karena sebagian alasan mereka adalah mengerjakan tugas sekolah,” jelasnya.

Sebagai solusi, Arifatul Choiri mendorong kembali penggunaan permainan tradisional sebagai alternatif sehat untuk mengurangi ketergantungan anak pada gadget.

“Maka solusinya adalah permainan tradisional karena permainan tradisional memiliki filosofi yang sangat tinggi. Tidak ada permainan tradisional yang bisa dimainkan sendiri. Anak-anak harus antri, harus gotong royong, harus menghargai satu sama lain. Tanpa disadari, di sana mereka sedang mempraktikkan nilai-nilai Pancasila,” kata Arifatul.

Ia menambahkan, permainan tradisional juga mempererat kebersamaan dan tidak mengenal perbedaan. Dengan demikian, anak-anak akan terhindar dari penggunaan gadget secara terus-menerus.

“Apapun agamanya di dalam permainan tradisional anak-anak akan tetap bermain bersama. Ini pondasi penting bagi generasi kita, apalagi Indonesia terdiri dari ribuan pulau, adat istiadat, dan budaya yang beragam.” Imbuhnya. (*)

Penulis: Yandri Rinaldi