
IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut transisi hijau tidak dapat dipisahkan dari penciptaan lapangan kerja (Green Jobs).
Ia mengatakan, transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan dapat membuka hingga 4,4 juta lapangan kerja baru di Indonesia.
Peluang tersebut diproyeksikan tumbuh seiring pengembangan energi terbarukan, penguatan hilirisasi industri, serta transformasi struktur ekonomi ke arah yang lebih berkelanjutan.
“Diproyeksikan transisi hijau dapat menciptakan sekitar 4,4 juta green jobs. Jadi, kesiapan SDM menjadi kunci penting agar peluang tersebut bisa dimanfaatkan,” ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Transisi Energi Berkeadilan dan Peluang Green Jobs serta Green Economy di Kalimantan, yang digelar di Universitas Balikpapan (Uniba), Selasa (27/1/2026).
Lebih lanjut, Ia menerangkan bahwa peluang green jobs tidak hanya hadir di sektor pembangkitan energi terbarukan seperti tenaga surya, air, dan panas bumi.
Ekosistem ekonomi hijau juga membuka kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor pendukung, mulai dari manufaktur komponen, industri pendukung, pengelolaan lingkungan, hingga logistik dan jasa.
Seiring meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia di sektor tersebut, pemerintah menyiapkan program magang nasional yang menargetkan 100 ribu lulusan baru.
Melalui program ini, peserta akan ditempatkan langsung di dunia industri untuk memperoleh pengalaman kerja, dengan skema pembiayaan gaji selama masa pelatihan yang ditanggung oleh negara.
“Program magang nasional kami siapkan agar lulusan nantinya akan memiliki pengalaman kerja dan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Kemudian, selama mengikuti program magang, gaji ditanggung oleh negara,” jelas Airlangga.
Program ini, kata dia, menjadi penghubung antara dunia pendidikan dan dunia kerja, utamanya dalam merespons perubahan kebutuhan tenaga kerja yang muncul seiring transisi energi dan penguatan green economy.
Melalui skema tersebut, pemerintah berharap lulusan tidak hanya memiliki kesiapan akademik, tetapi juga dibekali keterampilan aplikatif yang sesuai dengan tuntutan dunia industri. (*)