Kepala BPS Kota Balikpapan, Marinda Dama Prianto.

IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Fenomena perceraian di Kota Balikpapan sepanjang tahun 2024 menjadi potret dinamika sosial yang patut mendapat perhatian, seiring meningkatnya kompleksitas persoalan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi, perubahan gaya hidup, dan tantangan komunikasi dalam keluarga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan yang bersumber dari Pengadilan Agama Balikpapan, berbagai faktor tercatat menjadi pemicu putusnya ikatan pernikahan. Data tersebut merupakan hasil kompilasi terakhir untuk kondisi tahun 2024, sementara pengumpulan data perceraian tahun 2025 masih dalam proses.

Kepala BPS Kota Balikpapan, Marinda Dama Prianto menjelaskan bahwa gambaran perceraian di Balikpapan menunjukkan keragaman penyebab dengan tingkat kasus yang berbeda-beda.

“Dari sumber data pengadilan agama Balikpapan, dapat kami sampaikan bahwa perceraian yang disebabkan oleh minuman keras atau mabuk itu sejumlah 16 kasus di tahun 2024, kemudian madat ada 15 kasus dan judi ada 30 kasus,” terang Marinda saat dijumpai di kantornya, Kamis (22/1/2026).

Ia menambahkan, faktor lain yang cukup menonjol adalah tindakan meninggalkan salah satu pihak dengan jumlah mencapai 126 kasus.

Sementara itu, perceraian karena salah satu pihak menjalani hukuman penjara tercatat satu kasus. Praktik poligami juga tercatat menjadi penyebab perceraian dalam 28 kasus, sedangkan KDRT menyumbang 90 kasus.

Namun, penyebab yang paling dominan sepanjang 2024 adalah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus dalam rumah tangga.

Faktor ini tercatat mencapai 781 kasus, menjadikannya pemicu terbesar perceraian di Kota Balikpapan. Selain itu, persoalan ekonomi juga masih menjadi faktor signifikan dengan jumlah 247 kasus.

Adapun penyebab lain yang relatif lebih kecil namun tetap muncul dalam data antara lain kawin paksa sebanyak dua kasus serta perpindahan keyakinan (murtad) yang tercatat dalam 11 kasus perceraian.

“Jadi kalau di lihat dari data-data yang saya sampaikan tadi, yang mendominasi adalah masalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus,” imbuhnya.

Secara umum, data perceraian di Kota Balikpapan sepanjang 2024 menunjukkan bahwa perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus menjadi faktor paling dominan, disusul persoalan ekonomi dan tindakan meninggalkan salah satu pihak. (*)