IKNBISNIS.COM, BALIKPAPAN – Di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, kasus diare akut di Balikpapan melonjak cukup signifikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan melaporkan sebanyak 524 kasus diare akut terdeteksi pada minggu ke-34 tahun 2026.

Angka ini muncul dari hasil pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) serta menjadi yang tertinggi dalam lima minggu terakhir. Jumlah tersebut juga melampaui capaian periode yang sama tahun 2025 yang tercatat 466 kasus.

Dengan rekap itu, Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus diare akut tertinggi secara absolut di Provinsi Kalimantan Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, melalui Surat Edaran Nomor 400.7.8/2600/DINKES tertanggal 14 September 2026, menyebut keterbatasan pasokan air perpipaan selama musim kering sebagai salah satu faktor yang memperparah keadaan.

“Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan kewaspadaan bersama, khususnya pada periode musim kemarau. Keterbatasan ketersediaan air bersih perpipaan dapat mendorong perubahan sumber air yang digunakan masyarakat dan berpotensi mempengaruhi higiene, sanitasi, pengolahan air minum, serta keamanan pangan,” tegas Alwiati.

Ia menambahkan, kendati kenaikan kasus tidak serta-merta bisa disimpulkan murni akibat faktor iklim semata, langkah responsif lintas sektor harus segera diambil guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Berdasarkan pemetaan tingkat Puskesmas, Klandasan Ilir mencatat pasien terbanyak dengan 33 kasus, disusul Mekar Sari 30 kasus, Karang Joang 26 kasus, Damai 23 kasus, dan Sepinggan 22 kasus.

Menindaklanjuti kondisi ini, Dinkes mengeluarkan empat instruksi yang wajib dijalankan seluruh Puskesmas, Klinik, dan Dokter Praktik Mandiri se-Kota Balikpapan.

Pertama, penguatan surveilans dan pelaporan fast-track. Faskes wajib melaporkan tren mingguan melalui SKDR dan menyampaikan laporan khusus ke Bidang P2P Dinkes paling lambat 1×24 jam jika menemukan kluster kasus, kasus berat, atau potensi KLB.

Kedua, penanganan klinis standar (LINTAS DIARE). Faskes diminta memastikan ketersediaan logistik medis utama, seperti Oralit, Zinc, dan cairan rehidrasi. Petugas kesehatan juga diinstruksikan memberikan edukasi mengenai tanda-tanda dehidrasi berat dan menyiagakan jalur rujukan cepat.

Ketiga, edukasi dan promosi kesehatan lingkungan. Masyarakat didorong meningkatkan kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), menggunakan jamban sehat, serta memastikan air minum dimasak hingga mendidih sempurna sebelum dikonsumsi.

Keempat, inspeksi sanitasi dan pengawasan air bersih. Puskesmas bersama perangkat RT, kelurahan, dan kecamatan diinstruksikan turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kualitas air pada sumber-sumber air warga yang rawan tercemar.

Langkah-langkah ini diharapkan mampu menekan laju penularan diare akut. Warga pun diminta tetap tenang, tetapi tidak lengah terhadap kebersihan diri dan lingkungan selama musim kemarau. (*/Adv Diskominfo Balikpapan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *